Lompat ke isi utama

Berita

Cegah Money Politic, Bawaslu Majalengka ajak Organisasi pemuda untuk aktif dalam pengawasan partisipatif

[et_pb_section fb_built="1" admin_label="section" _builder_version="3.22"][et_pb_row admin_label="row" _builder_version="3.22" background_size="initial" background_position="top_left" background_repeat="repeat"][et_pb_column type="4_4" _builder_version="3.0.47"][et_pb_text admin_label="Text" _builder_version="3.22.1" background_size="initial" background_position="top_left" background_repeat="repeat"]

Dalam rangka meningkatkan pemahaman kepemiluan terhadap masyarakat, Bawaslu Majalengka melaksanakan sosialisasi pengawasan partisipatif pemilu kepada Organisasi Kepemudaan (OKP) dan Karang Taruna, bertempat di Aula Gedung STIE STMY Majalengka, Kamis (15/09/2022).

Hadir empat organisasi kepemudaan yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiwa Muhammadiyah (IMM), dan Karang Taruna Kabupaten Majalengka sebagai peserta dalam kegiatan tersebut,.

Saat memberikan sambutannya, Ketua Bawaslu Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana menjelaskan, kami ingin pesan pengawasan partisipatif sampai ke masayarakat.

“Organisasi Pemuda yang kami hadirkan hari ini adalah representasi dari seluruh Pemuda di Kabupaten Majalengka, berharap bahwa pesan kepemiluan sampai ke seluruh lapisan kader paling bawah, kami yakin semua punya kader dan struktur sampai lapisan bawah”. Ujarnya.

Masih menurut H. Agus, melihat hasil survey lembaga terpercaya, bahwa masyarakat majalengka masih apriori terhadap money politic, terpilihnya seseorang adalah hasil money politic. jika faktor kemenangan adalah uang, lalu kapan orang visioner yang punya ide dan gagasan bagus mendapat kesempatan?

Hal senada disampaikan oleh Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Barat, Zaki Hilmi, Ia menyampaikan peran pemuda dalam pengawasan pemilu.

“Peran pemuda dalam mengawasi bisa dilakukan dilingkungan terdekatnya, seperti mecegah terjadinya praktek politik uang pada keluarga dan tetangga”. Ungkapnya
Ia juga menambahkan, bahwa pemilih terbesar di Indonesia berada di Provinsi Jawa Barat, oleh karena itu, kita harus menjadi pemilih yang bertanggungjawab dengan cara menggunakan hak pilih dan menjadi pemilih yang objektif.

Dalam kesempatan yang sama, saat memberikan materi, Ketua BPH Yawina Yabunas, H. Sudibyo menyampaikan kesuksesan Pemilu adalah PR kita bersama.

“Penanganan kerawanan pemilu mempunyai dua cara yang pertama adalah antispasi, bagaimana cara agar pemilu berjalan dengan baik tanpa money politic. Yang kedua, Bawaslu sebagai salah satu institusi harus menyelamatkan suara rakyat, jangan sampai ada pembiaran suara rakyat dihalangi oleh hal yang bersifat intimidasi, ancaman, dan takanan lainnya”. Imbuhnya

Hal senada disampaikan oleh Tokoh Pemuda Jawa Barat dan Advokat, H. Indra Sudrajat mengatakan bahwa ada dua macam Racun pemilu.

“Bentuk Racun pertama adalah money politic, kondisi masyarakat yang pragmatis menjadi alasan kenapa mau memilih harus ada duitnya. Kedua adalah Politik Identitas, karena yang dibangun adalah sebuah fanatisme yang menghasilkan saling hujat. problem atau isu tersebut selalu membawa semangat perbedaan, dalam perbedaan juga harus kita antisipasi jangan sampai terulang Istilah penyebutan “Cebong dan Kampret”. Pungkasnya.(AF)

[/et_pb_text][et_pb_gallery gallery_ids="3708,3717,3711,3716,3709,3710,3713,3715,3714,3712" posts_number="8" show_title_and_caption="off" show_pagination="off" _builder_version="3.22.1" title_font="||||||||" title_text_color="#ffffff"][/et_pb_gallery][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
Tag
Publikasi