Ramadan Jadi Alarm Moral Pengawas Pemilu, Bawaslu Teguhkan Spirit Kelembagaan 2026
|
MAJALENGKA – Momentum Ramadan menjadi pengingat kuat bagi jajaran pengawas pemilu untuk kembali meneguhkan komitmen dan menjaga marwah kelembagaan. Hal tersebut disampaikan Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum RI, Lolly Suhenty, dalam kegiatan Kick Off Ngabuburit Pengawasan bertema Penguatan Spirit Kelembagaan Bawaslu Tahun 2026 di Gedung Bawaslu.
Menurutnya, sumpah jabatan bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan saat pelantikan. Sumpah adalah kompas moral dan spiritual yang harus terus dihidupkan dalam setiap langkah pengawasan.
“Pengabdian di Bawaslu bukan hanya dipantau publik, tetapi juga dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Ramadan menjadi waktu yang tepat untuk kembali merefleksikan hal tersebut,” tegas Lolly.
Ia menjelaskan, ketika nilai-nilai sumpah jabatan benar-benar diinternalisasi dan dijalankan secara konsisten, maka pengawasan akan berjalan lebih kokoh dan berdampak langsung pada penguatan kelembagaan. Kritik yang datang, baik yang membangun maupun yang terasa tajam, dinilai sebagai konsekuensi dari posisi strategis Bawaslu dalam menjaga demokrasi.
“Ketika Bawaslu dikritik, itu artinya lembaga ini diperhatikan dan dianggap penting. Spirit kelembagaan tidak boleh surut. Justru harus semakin kuat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Lolly menekankan bahwa demokrasi bukan sekadar soal siapa yang terpilih, melainkan bagaimana proses itu dijalankan secara jujur, adil, dan berintegritas. Proses adalah napas demokrasi. Tanpanya, hasil kehilangan makna.
Ramadan, lanjutnya, mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan. Nilai-nilai tersebut menjadi energi moral bagi seluruh jajaran pengawas pemilu agar tidak kehilangan arah di tengah berbagai tantangan.
Ia juga mengingatkan bahwa pengawasan tidak berhenti pada tahapan pemilu atau pemilihan saja, melainkan berlangsung sepanjang masa jabatan. Karena itu, kolaborasi dengan masyarakat menjadi kunci dalam memperkuat pengawasan partisipatif.
“Pengawasan terbaik adalah pengawasan yang melibatkan semua pihak. Mari bersama Bawaslu menjaga demokrasi Indonesia,” pungkasnya.
Semangat Ramadan bukan hanya tentang menahan diri, tetapi juga tentang menguatkan komitmen. Dan bagi pengawas pemilu, komitmen itu bernama integritas.
Penulis Taufik Hidayat
Sumber : Bawaslu RI
Foto : Humas Bawaslu RI