Lompat ke isi utama

Berita

Hari Ibu, Bawaslu Ajak Perempuan Bersuara

[et_pb_section fb_built="1" _builder_version="3.22.1"][et_pb_row _builder_version="3.22.1"][et_pb_column type="4_4" _builder_version="3.22.1"][et_pb_text _builder_version="3.22.1"]

Majalengka – Dalam rangka memperingati Hari Ibu, Bawaslu Majalengka membuka ruang diskusi dalam Kegiatan Orasi (Obrolan Demokrasi) Serial #17 dengan mengangkat tema “Otonomi Pemilih Perempuan dalam Pemilu dan Pemilihan” bersama Organisasi Kewanitaan yang ada di Kabupaten Majalengka, Rabu (22/12/2021).

Dalam pengantarnya, Idah Wahidah Kordinator Divisi Hukum, Humas dan Data Informasi Bawaslu Majalengka mengatakan peringatan Hari Ibu pada tahun ini mengusung slogan “Ibu Berdaya, Indonesia Maju”. Balance dengan tema yang diusung pada Orasi Serial #17 kali ini. Tegasnya

Ia juga mendefinisikan makna politik “Politik merupakan alat yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara, Politik merupakan alat bantu sebagai perekat bangsa dan negara” Ungkapnya

Budaya Patriarki sebuah gambaran ketika perempuan tidak bicara, Karena masih ada anggapan perempuan sebagai mesin pendulang suara, perempuan hanya mendukung laki-laki, kepentingan perempuan belum terakomodasi dengan baik. Imbuh Idah

Neni Nurhayati Direktur DEEP Indonesia, yang menjadi narasumber dalam giat tersebut memaparkan bagaimana kita memaknai hari ibu bukan hanya perayaan belaka, tapi bagaimana kita merefleksikan keadilan berpolitik.

“Minimnya pendidikan politik dan literasi digital, perempuan cenderung lemah dalam merespon informasi-informasi tersebut, hal ini kemudian menjadikan banyak oknum untuk menggulingkan lawan-lawan politik, isi-isu gender dan sexualitas” Papar Neni.

Tidak ada demokrasi yang sejati, partisipasi perempuan ada di semua lini kehidupan, partisipasi perempuan datang ke TPS bukan hanya sekedar mengggurkan kewajiban belaka, Perempuan harus punya kesadaran untuk berpartisipasi dalam politik. Ujarnya.

Lolly Suhenty Anggota Bawaslu Provinsi Jawa Barat, yang juga menjadi narasumber dalam diskusi ini menyinggung soal refleksi tentang otonomi, secara psikologis akan memiliki kedekatan emosi dengan kandidat perempuan , namun tidak semua kandidat perempuan bisa menyuarakan tentang perempuan.

“Kandidat perempuan masih berada dalam lingkaran Budaya Patriarki, dimana budaya Patriarki lebih ramah kepada laki laki” jelas Lolly

Tidak setiap perempuan dipilih oleh perempuan menjadi anggota Legislatif/Kepala Daerah, otonomi perempuan sebagai pemilih tidak bisa berdiri sendiri. Tutupnya

[/et_pb_text][et_pb_gallery fullwidth="on" _builder_version="3.22.1" gallery_ids="3322,3323,3324,3325"][/et_pb_gallery][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]
Tag
Uncategorized