Pembinaan SDM dan Kesekretariatan Bawaslu Kabupaten Majalengka, Meski Tak Ada Pilkada Jangan Jadi Miskin Kreasi
|
Majalengka (08/12/2020) - Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Kabupaten Majalengka mengadakan kegiatan Pembinaan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Kesekretariatan bagi seluruh jajaran staf sekretariat, dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Dilaksanakan di Kafe Kopi Sawah, Jl. Raya K. H. Abdul Halim No. 499, Tonjong, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka.
Dihadiri oleh para pimpinan Bawaslu Kabupaten Majalengka yang juga terlibat langsung dalam setiap sesi kegiatan. Agenda utama diisi oleh seorang Motivator Nasional asli Majalengka, Budiman Al Iman.
Ketua Bawaslu Kabupaten Majalengka, H. Agus Asri Sabana berharap dengan adanya kegiatan pembinaan ini kinerja Bawaslu semakin baik lagi. Jangan sampai karena tidak adanya pilkada, Bawaslu menjadi miskin kreasi, tidak ada aktivitas atau tidak menghasilkan karya sama sekali.
"Sebenarnya di Bawaslu tidak ada yang namanya divisi. Kita ini teamwork. Jadi setiap orang harus memiliki pemahaman yang sama. Bukan apa yang akan dipaparkan pemateri yang berat. Yang berat itu adalah implementasi, bagaimana kita mengaplikasikannya." Demikian H. Agus, sekaligus membuka acara.
Budiman Al Iman menerangkan bahwa ketika hidup adalah pilihan, dapat diasumsikan kedalam konsep empat kuadran. Pertama, sebut saja A dan O dimana A untuk diri sendiri dan O untuk orang lain. Ketika A dan O sama-sama dalam posisi stagnant atau tidak ada kemajuan, tentu konsep ini tidak akan menjadi pilihan.
Kedua, ketika A diposisi stagnant dan O diposisi move on atau ada kemajuan. Dalam konsep kedua ini akan memunculkan penyakit orang stagnant yang bisa disebut SMS, yaitu Susah Melihat orang Senang atau sebaliknya Senang Melihat orang Susah. Ini juga tidak bisa dijadikan pilihan.
Ketiga, ketika A diposisi move on dan O diposisi stagnant. Konsep ini juga bukan merupakan pilihan yang tepat, karena seharusnya orang yang bisa membuat kemajuan tidak akan senang berada di lingkungan orang yang stagnant. Dan cenderung akan terbawa oleh lingkungannya.
Keempat, ketika A dan O sama-sama diposisi move on. Konsep inilah yang seharusnya menjadi pilihan dimana setiap orang menjadi pribadi yang move on dan me-move-on-kan orang lain.
"Begitupun di Bawaslu, seharusnya hal tersebut dapat dilakukan, misalnya kedalam 2 hal yakni motivasi dan edukasi. Motivasi untuk bekerja dan mengembangkan diri menjadi lebih baik. Edukasi untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat berupa pendidikan politik." Jelas Budiman yang juga merupakan Dosen Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Selain itu, lanjut Founder Ruang Motivasi Indonesia ini, ada istilah Ikigai yang merupakan budaya Jepang untuk membentuk value orang-orang disana.
Ikigai adalah istilah Jepang untuk menjelaskan kesenangan dan makna kehidupan. Kata itu secara harfiah meliputi iki, yang berarti kehidupan dan gai, yang berarti nilai. (Wikipedia)
Terdapat empat bagian dalam Ikigai yang saling berkaitan. Pertama, Passion/Kegemaran. Seperti dikutip dalam buku GRIT, dalam hal pekerjaan, sekalipun anda banyak uang anda akan tetap melakukan pekerjaan itu. Dan sekalipun anda tidak dibayar anda akan tetap melakukan pekerjaan itu.
Kedua, Mission/Misi. Berkaitan dengan kebermanfaatan kita ketika kita ada dimanapun. Adanya kita menggenapkan atau diharapkan, dan tidak adanya kita mengganjilkan atau tidak diharapkan. Jangan justru sebaliknya, adanya kita mengganjilkan dan tidak adanya kita menggenapkan.
Ketiga, Profession/Profesi. Terkait apa yang menghubungkan kita dengan apa yang kita kerjakan. Maksudnya, tempat dimana seseorang beraktivitas akan sesuai dengan bidang yang dikuasainya.
Keempat, Vocation. Terkait kesadaran kita bahwa apa yang kita kerjakan harus menghasilkan uang.
[/et_pb_text][et_pb_gallery gallery_ids="1816,1814,1811,1812,1813,1815" fullwidth="on" _builder_version="3.22.1"][/et_pb_gallery][/et_pb_column][/et_pb_row][/et_pb_section]